Pengadilan Agama Makassar

.

Berita Flash

TAKHRIJ AL-HADIS

Kedudukan hadis dalam ajaran Islam adalah sumber kedua setelah Alquran dan menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam membangun sikap religius. Dengan posisi sentral tersebut, hadis dijadikan senantiasa dijadikan obyek kajian dalam rangka peningkatan dan pembangunan nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, pemeliharaan keorisinalitasnya dan kevalidannya sangat urgen.
Dalam sejarah perkembangan hadis, pemeliharaan dan pemgembangannya telah melewati masa yang cukup panjang mulai masa Rasulullah hingga tersusunnya kitab-kitab hadis yang dapat disaksikan dewasa ini. Para ulama melakukan periodesasi pemeliharaan dari tahap penulisan, kodivikasi, klasifikasi, hingga pensyarahan.
Hadis dapat dikatakan memiliki hak otoritas dalam menetapkan hukum yang tidak dapat dalam Alquran. Oleh karena itu, dilihat dari luasnya cakrawala ilmu hadis yang terbesar dikalangan umat Islam, maka para ulama berupaya mencari suatu metode atau cara dengan tujuan mengadakan penyaringan dengan kualitas hadis tersebut, diantaranya adalah metode takhrijul hadis, yang kemudian menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kajian dan studi hadis, hal ini dengan maksud agar dapat diseleksi antara hadis shahih, dha’if, dan maudu’ (palsu) bahkan hadis mungkar sehingga terjadi kesimpangsiuran dalam penempatan hukum dan syariat.

B.    Pengertian Takhrijul al-Hadis.
Meurut bahasa kata Takhrij adalah bentuk masdar dari kata  Kharaja–Yukhariju-Takhriijan yang secara bahasa yaitu, mengeluarkan sesuatu dari tempat.  Takhrij juga berarti menelusuri atau berusaha menembus suatu hadis untuk mengetahui segi-segi yang terkait dengannya, baik dari segi sumber pengambilan kualitasnya maupun dari segi yang lain.  Menurut Mahmud al-Thahan menjelaskan bahwa kata Takhrij secara bahasa berarti:
    اجتماع امرين متضا دين فى شىء واحد
Kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam suatu masalah.
Kata Takhrij adalah dapat diartikan beberapa arti dan yang paling populer adalah: 1. Al-Istimbath,(mengeluarkan).
2. Al-Tadrib,(meneliti atau melatih).
3. Al-Tawjih (menerangkan atau memperhadapkan).
Pengertian Takhrij menurut ahli hadis memiliki tiga macam pengertian yaitu sebagai berikut:
1.    Usaha mencari sanad hadis yang terdapat dalam kitab hadis karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. Usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. Misalnya seorang mengambil sebuah hadis dari kitab Jamius Shahih Muslim, kemudian ia mencari sanad hadis tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditetapkan oleh Imam Muslim.
2.    Suatu keterangan bahwa hadis yang dinukilkan kedalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Misalnya, penyusunan hadis mengakhiri penulisan hadisnya dengan kata-kata “Akhrajahul Bukhari” artinya bahwa hadis yang dinukilkan itu terdapat dalam kitab Jamius Shahih al-Bukhari, bila ia mengakhiri dengan kata Akhrajul Muslim berarti hadis tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim.
3.    Suatu usaha mencari derajat sanad dan rawi hadis yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab misalnya:
a.    Takhrij Hadis Kassyaf, karya Jamaluddin al-Hanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat hadis yang terdapat dalam kitab Tasrif al-Kassyaf yang oleh pengarangnya tidak diterangkan derajat hadisnya apakah shahih, hasan atau lainya.
b.    Al-Mugni al-Hamlil Asfar, karya Abdurahim al-Iraqi adalah kitab yang menjelaskan derajat-derajat hadis yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali.

C.    Sejarah dan Manfaat Takhrijul al-Hadis
Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber hadis begitu luas, sehingga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu hadis untuk mengetahuinya dalam kitab hadis. Ketika semangat belajar sudah melemah mereka sudah kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadis yang dijadikan sebagai rujukan para penulis dalam ilmu-ilmu syar’i. Maka sebagian dari ulama bangkit memperlihatkan sebagian hadis yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab hadis yang asli untuk menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shahih dan yang dhaif, lalu muncul apa yang dinamakan dengan Kutub al-Takhrij (buku-buku takhrij).
Ulama terdahulu dan peminat hadis belum menemukan pengetahuan hadis, kaedah dan asal usulnya, yang kini disebut dengan “asal usul takhrij” sebab telah mereka terhadap sumber-sumber sunnah sangat luas, kontak mereka dengan sumber asli hadis amat kuat. Ketika mereka memerlukan kesaksian (penguatan) suatu hadis segera mungkin mereka ingat letaknya pada kitab-kitab sunnah, bahkan mereka hafal jilidnya. Karena itu mudah bagi mereka memanfaatkan dan merujuk kepadanya untuk mentakhrij hadis.
Hal demikian berlangsung beberapa abad sampai batas waktu yang lama,  banyak ulama dan peminat hadis untuk menelaah kitab-kitab sunnah dan sumber-sumbernya yang asli. Ketika itulah mereka mengalami kesulitan mengetahui letak hadis yang di jadikan penguat oleh para penyusun kitab ilmu-ilmu syair dan ilmu-ilmu lainnya, seperti fikih, tafsir dan sejarah, kemudian sebagian ulama hadis bangkit dan saling bahu-membahu, mereka mentahkrij yang ada pada sebagian kitab-kitab sunnah yang asli dan mereka menyebut metode-metodenya. Mereka mengatakan, sebagian kitab tersebut atau seluruhnya shahih dan dhaif berdasarkan ketentuan yang berlaku. Lalu muncullah apa yang disebut dengan kitab-kitab takhrij.
Ada beberapa manfaat takhrijul hadis antara lain sebagai berikut:
1.    Memberikan informasi bahwa suatu hadis termasuk suatu hadis sahih, hasan atau dhaif, setelah diadakan penelitian dari segi matan dan sanadnya.
2.    Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu hadis adalah hadis makbul (dapat diterima) dan sebaliknya tidak dapat mengamalkannya apabila suatu hadis mardud (tertolak).
3.    Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullhah saw. yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut baik dari segi sanad maupun dari segi matan.  
4.    Takhrij memperkenalkan sumber hadis, kitab-kitab asal dimana suatu hadis berada beserta ulama yang meriwayatkannya.
5.    Takhrij dapat menambah perbendaharaan sanad hadis-hadis melalui kitab-kitab yang ditunjukinya. Semakin banyak kitab-kitab asal yang memuat suatu hadis, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang kita miliki.
6.    Takhrij dapat memperjelas perawi hadis yang samar. Karena terkadang kita dapati seorang perawi yang belum ada kejelasan namanya, seperti Muhammad, khalid dan lain-lain. Dengan adanya takhrij kemungkinan kita akan dapat mengetahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap.
7.    Takhrij dapat memperjelas perawi hadis yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanadnya.
8.    Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.
9.    Takhrij dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karena kemungkinan saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar, dengan adanya sanad yang lain maka nama perawi itu akan menjadi jelas.
10.    Takhrij dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadis. diantara hadis-hadis, ada yang timbul karena perilaku seseorang atau kelompok orang melalui perbandingan sanad-sanad yang ada maka. “asbab al-wurud” dalam hadis tersebut akan dapat diketahui dengan jelas.

D.    Metode Takhrijul al-Hadis
Mengetahui kejelasan hadis beserta sumber-sumbernya, ada beberapa metode takhrij yang dapat digunakan oleh mereka yang akan menelusurinya. Metode-metode takhrij inilah, yang diupayakan oleh para ulama dengan maksud untuk mempermudah mencari hadis-hadis Rasul. Para ulama telah banyak mengkodifikasikan hadis-hadis, dengan mengatur susunan-susunan yang berbeda satu dengan yang lain, sekalipun semuanya menyebutkan ahli hadis yang meriwayatkannya. Perbedaan dengan cara mengumpulkannya inilah yang akhirnya menimbulkan ilmu takhrij.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa, hadis memilki dua unsur asasi yaitu: Sanad dan Matan. Dengan demikian maka metode atau sistim pentakhrijan akan selalu berorientasi pada dua bagian penting ini.
Secara garis besar mentakhrij hadis, (takhrijul al-hadis) dapat dijabarkan menjadi dua metode dasar dengan menggunakan kitab-kitab.
1.    Mentakhrij hadis dengan mengetahui awal matannya, maka hadis tersebut dapat dicari atau ditelesuri dalam kitab-kitab kamus hadis dengan dicarikan huruf awal yang sesuai di urutan huruf abjad.
contoh hadis Nabi
ليش الشد يد بالصر عة
Untuk mengetahui lafal lengkap dari penggalan matan tersebut, langkah yang harus dilakukan  adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan matan yang memuat pada penggalan matan yang dimaksud. ternyata halaman yang ditunjuk memuat penggalan lafal tersebut adalah halaman 2014, berarti lafal yang dicari berada pada halaman 2014. juz  IV, setelah diperiksa maka diketahuilah bunyi lengkap matan hadis yang dicari adalah.

عن اب هريرة ان رسول الله صلئ الله عليه وسلم قال:ليس
 الشد يد بالصرعه انما الشد يد ال يملك نفسه عند الغضب

artinya: Dari Abu Hurairah Rasulullh saw. bersabda, ukuran orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut orang yang kuat adalah, orang yang  mampu menguasai dirinya tatkala dia marah. (HR. Muslim)
Apabila hadis tersebut dikutip dalam karya tulis ilmiah, maka sesudah lafal matan dan nama sahabat periwayat hadis yang bersangkutan ditulis, nama imam muslim.
2.    Mentahkrij hadis dengan berdasarkan topik permasalahan (takhrijul hadis bil maudu’i).
Upaya mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadis tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadis didasarkan pada topik masalah, sangat menolong pengkajian hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadis dalam segala konteksnya.
Pencarian matan hadis didasarkan pada topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis. Namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukan teks hadis menurut para periwayatannya masing-masing. Diperlukan kajian terhadap teks-teks hadis menurut periwayatannya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadis tertentu, pengkajian teks dan konteks hadis menurut riwayat berbagai periwayatan akan mudah dilakukan salah satu kamus itu adalah miftahu kunuuzi sunnsh.   
Kitab tersebut merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan topik masalah. Pengarang asli kamus hadis tersebut adalah Dr. A.J. Wensinck (wafat 1939 M). Seorang orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadis, Dr. A.J. Wensinck adalah penyusun utama kitab kamus hadis: al-mu’zam  al-mufarras li al-faadhi al-hadiisi nabawiyyi.
Secara garis besar Takhrijul Hadis dapat dijabarkan menjadi dua metode dasar yaitu:
1.    Metode takhrij dengan mengetahui matan dari hadis. Metode ini bisa dilakukan dengan empat cara sebagai berikut:
a.    Mentakhrij dengan jalan mengetahui tema dari hadis tersebut.
b.    Mentakhrij hadis dengan mengetahui kata pertama dari matan hadis.
c.    Mentakhrij hadis dengan mengetahui asal kata (kalimat mustaqqah)
d.    Mentakhrij hadis dengan mengetahui sifat-sifat matan.
2. Metode takhrij dengan mengetahui sanad dan hadis. Metode ini juga bisa dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
a.    Mentakhrij hadis dengan mengetahui perawi pertama (sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut).
b.    Mentakhrij hadis dengan mengetahui perawi terakhir (Sekh al-Mualif).
c.    Mentahkrij hadis dengan mengetahui sifat-sifat sanad.
Menurut Abdul Al-Mahdi, setelah mengadakan penelitian tentang metode para ulama dalam Takhrijul al-Hadis maka beliau menyimpulkan bahwa metode Takhrijul al-Hadis dapat ditempuh dengan lima cara sebagai berikut:
1.    Takhrij berdasarkan pada awal kata dari matan hadis.
2.    Takhrij berdasarkan salah satu lafaz dari lafaz-lafaz hadis.
3.    Takhrij berdasarkan perawi tertinggi (pertama) dari sanad hadis.
4.    Takhrij berdasarkan pada tema hadis.
5.    Takhrij berdasarkan pada jenis/sifat hadis.
Berdasarkan pada penjelasan dari Abu al-Mahdi tersebut, maka penulis akan memberikan contoh dari kelima metode tersebut, bagaimana keunggulan dan kekurangan metode-metode tersebut secara ringkas.

1. Metode takhrij berdasarkan awal kata dari matan hadis.
    Penggunaan metode ini tergantung dari lafaz pertama atau hadis. Berarti metode ini juga mengkodifikasikan hadis-hadis yang lafaz pertamanya sesuai dengan huruf-huruf hijaiyah. Seperti: hadis-hadis yang huruf pertamanya. Alif, Ba, Ta, dan seterusnya. Suatu keharusan bagi yang akan menggunakan metode ini untuk mengetahui dengan pasti lafaz-lafaz pertama dari hadis-hadis yang akan di carinya. Setelah itu ia melihat huruf pertamanya melalui kitab-kitab takhrij  yang disusun dengan metode ini, demikian juga dengan huruf yang kedua, dan seterusnya sebagai contoh hadis yang berbunyi sebagai berikut:
من غشن فليش منا
Langkah untuk mencarinya dengan mengguanakan metode ini adalah sebagai berikut.
1.    Lafaz pertama dengan membukanya pada bab م.
2.    Kemuduian mencari huruf yang kedua ن setelah م   tersebut.
3.    Huruf-huruf selanjutnya adalah غ  lalu ش  serta ن.
4.    Dan begitu seterusnya sesuai dengan urutan huruf hijaiyah kepada lafal-lafal matan hadis.
Keunggulan metode ini adalah kita dengan cepat mendapatkan hadis yang diinginkan, semakin cepat huruf yang dimaksud maka semakin cepat pula kita mendapatkan hadis tersebut.
Kelemahannya kita akan kesulitan jika terdapat perbedaan awal kata pada lafaz hadis yang diinginkan, sehingga rangkaiyan kata yang dijadikan petunjuk bahwa semakin menjauhkan kita dari hadis yang dimaksud.
Buku-buku rujukan dalam metode ini diantaranya adalah al-jami’ al-kabir karya al-Sayuthy. al-jami’ al-shagir min hadis al-bashir al-nadzir karya al-Sayuthy. Al-fathu al-kabir fi dhammi al-ziadat ila al-jami’ alshaghir, Karya al-Sayuthy. Kitab hidayat al-bariy ila tartib al-hadis al-Bukhari Karya al-Sayyid Karya al-Thahtawiy.
2. Takhrij berdasarkan salah satu lafaz dari lafaz-lafaz hadis.
Metode ini tergantung dari kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik itu berupa isim (nama benda) dan fi’il (kata kerja). Huruf-huruf tidak digunakan dalam metode ini. Hadis-hadis yang dicantumkan hanyalah bagian hadis. Adapun ulama yang meriwayatkannya nama kitab induknya dicantumkan dibawah potongan hadis-hadisnya.
Para penyusun kitab-kitab takhrijul hadis menitiberatkan meletakkan hadis-hadisnya menurut lafal-lafalnya yang asing. Semakin asing suatu kata, maka pencarian hadis akan semakin muda dan efisien seperti hadis yang berbunyi:
ان النبى صلى الله عليه وسلم نهى عن طعا م المتبار بنين ان يؤ كل
Sekalipun kata-kata yang dipergunakan dalam pencariannya dalam hadis diatas banyak seperti: طعم ـ نح ـ  ياكل   . akan tetapi sangat dianjurkan mencari melalui kata.
ان النبى صلى الله عليه وسلم نهى عن طعا م المتبار بنين ان يؤ كل
Untuk mentakhrij hadis ini kita dapat mengambil beberapa kata dari lafaz hadis diantaranya adalah: المتبرين ـ ياكل ـ طعم ـ نح   kata yang terakhir ini lebih diutamakan karena jarang dipakai. Namun, langkah selanjutnya harus dipakai asal katanya  yaitu: ابر   kemudian dilanjutkan dengan kata المتبرين  maka kita akan mendapatkan hadis yang dimaksud.
Keunggulan metode ini adalah dapat menpercepat pentakhrijan, para penulis dalam metode ini menjelaskan letak hadis dengan detail (kitab, bab, juz, bahkan halaman), harus memiliki satu bagian dari hadis dapat mengantarkan kita mendapatkan hadis tersebut.
Kekurangan metode ini adalah: Pentakhrij harus memiliki dasar Bahasa Arab yang baik. Tidak disebutkan sahabat yang meriwayatkan hadis secara langsung, tidak cukup mentakhrij dengan suatu kata saja tetapi kadang dengan mencoba beberapa kata dalam lafaz hadis.
Buku rujukan yang paling terkenal dalam metode ini adalah: al-Mu’jam al-Mufahras Li al-Fadz al-Hadis al-Nabawy, Karya DR. A.J. Wensick.
3. Takhrij Berdasarkan Perawi Tertinggi (Pertama) dari Sanad Hadis.
Metode ini berlandaskan pada perawi pertama suatu hadis baik perawi tersebut dari kalangan sahabat, bila sanad hadisnya bersambung kepada Nabi (Muntashil), atau dari kalangan tabi’in bila hadis itu mursal. Para penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini mencantumkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap mereka (perawi pertama) sahabat atau tabi’in sebagai langkah pertama ialah mengenal terlebih dahulu perawi pertama setiap hadis yang akan kita takhrij melalui kitab-kitabnya. Langkah selanjutnya mencari nama perawi pertama, dalam kitab-kitab itu dan mencari hadis yang kita inginkan di antara hadis-hadis yang tertera dibawah nama perawi pertamanya itu. Bila kita telah menemukannya, maka kita akan mengetahui para ulama hadis yang meriwayatkannya.
Metode takhrij hadis ini berdasarkan perawi tertinggi dari sanad hadis, jika hadis muntashil bersambung sanadnya dari Rasulullah, maka perawinya adalah sahabat, namun jika hadisnya mursal maka perawinya adalah tabi’in. Pada metode ini penulis hadis dalam buku-buku referensinya, disusun berdasarkan pada nama sahabat atau tabi’in yang meriwayatkan hadis. Jika tidak diketahui nama perawi sebelum mentakhrij maka kita harus beralih ke metode lainnya.
Keunggulan metode ini adalah proses mentakhrij lebih praktis karena memberikan informasi tentang ulama hadis yang meriwayatkan sekaligus kitab-kitab mereka mengetahui banyak  manfaat tentang hadis  yang di takhrij.
Kekurangan metode ini adalah metode ini tidak dapat dipakai, tanpa mengetahui nama perawi, dituntut membaca hadis yang diriwayatkan oleh perawi dalam jumlah yang banyak.
Adapun buku-buku referensinya dari buku ini adalah sangat banyak dan dapat di kategorikan /dapat dibagi menjadi dua bagian.
a.    Kutub al-Athraf ; misalnya, Tuhfat al-Ashraf  Bi Ma’rifati al-Athraf. Karya al-Imam al-Mizzi. Dzakhair al-Mawaris al-Mawadhi al-Hadis Karya Imam al-Nablusiy.
b.    Kutub al-Masnab; Misalnya Musnab al-Imam Ahmad Ibn Hambal.

4. Metode Takhrij Berdasarkan Tema Hadis.
Metode takhrij ini bersandar pada pengenalan tema hadis. Setelah kita menentukan hadis yang akan kita takhrij, maka selanjutnya ialah menyimpulkan tema tersebut. Kemudian kita mencarinya melalui tema ini pada kitab-kitab metode ini.
Kerap kali suatu hadis memiliki tema lebih dari satu, sikap kita terhadap hadis seperti ini mencarinya pada tema yang di kandungnya.
Contoh hadis sebagai berikut:

بني الاسلام علي خمس: شهادة ان لا اله الا الله.                     
    Untuk mentakhrij hadis ini maka harus dilihat tema dalam konteks hadis tersebut, dilihat dari konteksnya maka hadis tersebut dapat dicari dalam tema, dalam kitab al-Iman, kitab al-Tauhid, kitab al-Shalat, kitab al-Zakat, kitab al-Shaum dan kitab al-Hajji. Setelah mendapat dari tema-tema tersebut maka kita langsung mencari hadis yang dimaksud.
    Keunggulan metode ini adalah tidak membutuhkan pengetahuan tentang lafaz dan perawi hadis, tetapi cukup dengan mengetahui tema hadis saja dapat mendidik peneliti hadis memahami fikih hadis tersebut. Pentakhrij hanya berkosentrasi pada hadis yang ditakhrij atau hadis-hadis yang hanya berkaitan dengan tema tersebut sehingga dapat lebih cepat menemukannya. metode ini mendidik ketajaman pemahaman hadis pada diri peneliti. Seorang peneliti setelah menggunakan mtode ini beberapa kali akan memiliki kemampuan yang tambah terhadap tema dan maksud hadis yang merupakan fikih hadis.
Kekurangan metode ini adalah menyulitkan bagi orang-orang yang tidak memahami hadis, adakalanya pemahaman mukharij pada tema yang salah. Terkadang kandungan hadis sulit disimpulkan oleh seseorang peneliti hingga dapat menentukan temanya, sebagai akibatnya dia tidak mungkin menggunakan metode ini.  
Buku-buku referensi dalam metode ini adalah  Kutubun  Fi Takhrij Ahadisa al-Targhib, karya Ibn Hajar al-Haisaniy, Kutubu Takhrij Ahadisa ‘Amma karya al-Muttaqiy al-Hindiyy.
5.    Metode Takhrij Berdasarkan Jenis Atau Sifat Hadis.
Dalam metode ini proses pentakhrijan dimulai dengan mengetahui sifat yang nampak jelas pada hadis tersebut. Misalnya apakah hadis tersebut hadis qudsi, hadis mashyur, atau hadis mursal. Jika telah diketahui jenisnya/sifatnya maka langkah berikutnya adalah membuka kitab-kitab hadis yang mengumpulkan tema-tema tersebut.
Keunggulan metode ini adalah memudahkan proses takhrij karena hadis-hadis yang ditulis oleh para ulama yang berdasarkan status/sifatnya sangat sedikit, sehingga terlalu rumit.
Kelemahannya metode ini adalah menyulitkan bagi peneliti bagi yang tidak mengetahui status sifat/hadis. Ruang lingkupnya agak terbatas karena sedikitnya hadis-hadis yang ditulis. Hanya metode ini cakupannya sangat terbatas karena sedikitnya hadis-hadis yang di muat didalamnya. Hal ini akan lebih nampak jelas lagi ketika berbicara mengenai masing-masing kitabnya.
Buku-buku referensinya  dalam metode ini adalah al-azhar al-mutanassirah fi al-akhbar al-muthatirah karya al-Sayuti, al-ittihafat al-sunniyat fi al-ahadis al-qudsiyyah karya al-Madany al-Marasil karya al-Syakawiey.  

E.    Kesimpulan
Dari uraian metode Takhrijul al-hadis, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
A.    Pengertian secara khusus, Takhrij al-hadis adalah mengangkat atau menyandarkan sebuah hadis kepada sumber-sumber aslinya  dan menjelaskan derajat hadis  tersebut. Pengertian secara umum Takhrij al-hadis adalah mengeluarkan hadis oleh seorang muhadis dengan sanadnya dan memilihnya dari kitab-kitab hadis dan menunjukan letak hadis tersebut pada sumber aslinya. serta menjelaskan derajat hadis tersebut.
B.    Manfaat Takhrij al-hadis antara lain adalah memberikan informasi,  memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan, menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullhah saw. Takhrij memperkenalkan sumber hadis, Takhrij dapat menambah perbendaharaan sanad hadis-hadis melalui kitab-kitab yang ditunjukinya. Semakin banyak kitab-kitab asal yang memuat suatu hadis, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang kita miliki. Takhrij dapat memperjelas perawi hadis yang samar. Takhrij dapat memperjelas perawi hadis yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanadnya. Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat. Takhrij dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Takhrij dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadis.
C.    Secara garis besar Takhrijul al-hadis dapat dijabarkan menjadi dua metode dasar yaitu: Metode Takhrij al-hadis dengan mengetahui sanad dan hadis. Metode Takrij al-hadis dengan mengetahui sanad dari hadis. Secara umum metode  Takhrijul al-hadis dapat dilakukan dengan lima cara yaitu:
1.    Takhrijul al-hadis berdasarkan dengan awal kata dari matan hadis.
2.    Takhrijul al-hadis berdasarkan suatu lafaz dari lafaz-lafdz hadis.
3.    Takhrijul al-hadis berdasarkan perawi tertinggi (pertama) dari sanad hadis.  
4.    Takhrijul al-hadis berdasarkan tema hadis.
5.    Takhrijul al-hadis berdasarkan jenis atau sifat hadis.


--------syambas-------